JOGJA KALA SENJA - BAB 1 (unfinished)
Bab
1
Jakarta.
“Kadang,
bisa nafas saja sudah termasuk keberuntungan hari itu. Ditambah memiliki kamu,
kurang menakjubkan apa hidup ini?”
“Sarapan
dulu, dek. Nanti kelaperan disekolah” teriak Ibu dari dapur. Aku menghembuskan
nafas pelan, sambil melirik jam tangan. Pukul 6 lebih 45. Masih ada 15 menit
sebelum bel masuk berbunyi. Aku memutuskan untuk mengikuti kata ibu, sarapan
dirumah, karena toh telat 5-10 menit tidak jadi masalah. “Iya bu, sebentar”
teriakku dari teras. Aku beranjak berdiri. Mencabut kunci motor yang
menggantung, mematikan motorku yang menyala karena rutinitas harian ku adalah
memanaskan motor Mio biru itu sebelum berangkat sekolah. Wah! Aroma masakan
ibuku tercium semerbak disepanjang ruang rumah. “Masak apa bu?” tanyaku. Aku
mengambil gelas, menyalakan dispenser air putih. “Ikan asap kuah santan.” Jawab
Ibu. Tangannya cekatan, membersihkan gelas, menyapu lantai, sambil memasak ikan
di kompor. Ibu benar-benar seperti manusia super. Multitasking. Aku tersenyum
kecil. Ikan kuah santan adalah makanan favoritku terlebih saat sarapan.
Terdengar seperti sarapan yang berat memang, tapi percayalah, masakan ibu ini
sangat ringan, hangat dan light. “Cepet ya makan nya, udah mau jam 7”
ucap ibu sambil menyiduk nasi di magic com. Aku menarik kursi, lantas
duduk di meja makan. “Gapapa bu, nanti jam 7 ada ngaji-ngaji gitu, apa ya
sebutannya, lupa. Jadi masuknya lebih telat.” Aku menarik handphone dari
saku celana. TING! Notifikasi masuk. YOVE : “Udah di sekolah belum? Aku
lanjut tidur lagi ya kak, hehe! Semangat kak Kara!”. Aku tersenyum sipu.
Ah, notifikasi itu, benar-benar membuat hariku bersemangat. Ibu menuang ikan
kuah santan ke piringku. “Hee, taro dulu hape nyaa! Ini udah jam berapa loh
dek, wis awan cepetan!” ucap ibu. Aku mengusap rambut, lantas menaruh hape ku. Baiklah,
notifikasi itu kubalas nanti saja, ketika sudah sampi disekolah. Sekarang ada
tugas yang lebih penting, menghabisi sepiring ikan kuah santan buatan ibu.
Selesai makan, aku menaruh piring
di wastafel tempat cuci piring. “ Nanti ibu aja yang cuci, udah sana kamu
berangkat” ucap ibu. Aku mengambil tas, menyemprot parfume di beberapa titik
baju seragam-ku, bersalaman dengan ibu, lantas berangkat.
Ah, udara pagi kota Tangerang memang tidak
pernah salah. Pohon pohon bergerak melambai pelan, angin sepoi menerpa wajah. Aku
suka melihat aktivitas orang di pagi hari. Entah penjual nasi uduk yang sibuk
melayani pembeli, para pedagang keliling yang mengayuh sepeda nya, atau penjual
nasi padang yang sibuk sedang membakar ayam. Semua hal itu adalah pemandangan
yang menyenangkan.
10 menit perjalanan
dari rumah hingga sekolah, tepat 100 meter sebelum masuk ke gerbang sekolah,
aku berhenti di sebuah warung Madura. “Samil 2 batang” ucapku. Aku memberikan
uang, lantas lanjut berangkat ke sekolah.
Sepi. Gerbang sekolah
sudah sangat sepi. Aku menggaruk kepala. Ini hanya memiliki satu arti.
Terlambat. Aku memasukkan motor kedalam gerbang, melirik jam tangan. Pukul 7
lewat 15. Alamat! Toleransi keterlambatan biasanya hanya sampai pukul 7 lewat
5, namun kali ini sudah 10 menit aku melewati batas toleransi. Tak apa, tetap
tenang. Aku melajukan motorku. Memarkirnya, lantas beranjak ke kelas.
Langit pada pagi ini
mendung. Angin nya juga kencang. Bagi beberapa orang, mungkin mendung adalah
momok menakutkan, bencana yang merugikan. Tapi bagiku, ini adalah cuaca paling
menyenangkan. Mendung membawa kedamaian, menurutku. Udara nya sejuk, gemuruh
petir menghiasi langit. Banyak kegiatan yang kulakukan menjadi bergerak pelan
pelan, terhambat. Misalnya seperti perjalanan ke kelas kali ini. Duh! Namun kali
ini aku terhambat bukan karena cuaca mendung, melainkan karena bu Siti, guru BK
ku, sudah menunggu di depan gerbang. Tatapan mata nya tajam. Tangannya memegang
sebilah papan, yang sepertinya itu adalah penggaris kayu. Bu Siti menatapku
sinis. Melirik jam lagi, sudah pukul 7 lebih 20. Nasib, kali ini sepertinya aku
akan dihukum.
“Kenapa kamu
terlambat?” tanya nya. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. “Anu, bu. Eh,
saya tadi ban nya kempes. Tertusuk paku. Aduh, itu gawat bu. Jadi terpaksa saya
ke bengkel.” Bu Siti menatapku penuh selidik. “Klasik. Alasan seribu siswa.” Bu
Siti menatapku dari ujung rambut hingga kaki. PLAK! Sebilah papan itu
menghantam kaki ku. “Aduh! Kok dipukul sih bu!” aku meringis. Kenapa tiba tiba
Bu Siti memukulku? “Sejak kapan celana seperti ini boleh jadi seragam, heh!”
bentak Bu Siti. Aku mengangkat bahu, menyeringai. Sudah menjadi kebiasaan,
ketika seseorang bersekolah di sekolah negri dan mereka menduduki kelas 3 SMA,
maka hampir seluruhnya akan mengecilkan celana juga bajunya. Celana pensil. Karena
percayalah, ketika sebuah celana dan baju seragam berukuran press dengan
badan kita, itu akan menambah kharisma seorang laki-laki maupun perempuan, juga
kepercayaan diri mereka.
“Emang badung kamu ya, Kara! Sudah 10 kali sejak peraturan baru digalakkan kamu terlambat. Aduh, entah hukuman apa yang pantas untuk kamu hari ini!” Bu Siti mengelus dada. Ia sepertiny sudah lelah mengomeliku yang selalu terlambat. Juga pelanggaran pelanggaran lain seperti celana yang terlalu ketat. “Maaf bu, aduh, betulan deh bu tadi ban nya bocor. Saya janji besok bangun lebih pagi, bu.” Aku memohon. Pelajaran pertama hari ini adalah Geografi, yang dimana pelajaran itu tidak terlalu penting. Santai. Sejauh ini ketika ujian, aku masih bisa menalar pertanyaan pertanyaan yang keluar tanpa harus belajar. Maka dari itu, tidak apa hari ini terlewat 1-2 materi.
Bu Siti masih menatap galak. “Aduhh,
Kara! Alasan ban bocor itu klasik, biasa. Ibu doakan ban mu benar-benar bocor,
mau?” aku reflek melihat Bu Siti. “Waduh bu, jangan dong. Nanti duit saya abis
buat benerin ban terus tiap hari.” Bu siti mendengus pelan. Ia mengeluarkan
pulpen dari saku nya, dan sebuah kertas kecil. “Ini Terakhir ya Kara.” Ucapnya
sambil menulis nulis di kertas kecil itu. “Selanjutnya jika kamu masih pakai
celana sempit dan terlambat, silahkan kamu mengepel masjid dan toilet.” Aku menggaruk
kepala yang tidak gatal-lagi. Baiklah, sebaiknya aku tidak terlambat lagi
besok-besok. Apa jadi nya jika aku disuruh mengepel lantai masjid dan toilet?
Duh!
Bu Siti menyerahkan
kertas kecil itu, menyuruhku untuk segera ke meja piket. Pukul 7 lebih 30,
akhirnya aku mendapat izin untuk memasuki kelas.
Lapangan sekolah
cukup ramai. Ada kelas yang sedang ada di sesi pelajaran olahraga. Mereka
bermain voli, lantas separuhnya melakukan beep test.
Aku memutuskan untuk
mampir sebentar ke toilet, merapikan penampilan. Fiuh! Nasib baik Bu Siti tidak
memeriksa saku bajuku. Rokokku sempurna selamat. Aku merogoh tas sebentar,
mencari botolan parfume kecil yang kubawa. Lantas menyemprotkan nya ke beberapa
sisi baju. Walau udara sejuk karena mendung, tapi tetap saja berdiri didepan
gerbang sekolah dengan perasaan cemas dan gugup menguras tenaga dan
mengeluarkan keringat. Aku menatap cermin sekali lagi, merapikan rambut, lantas
beranjak pergi ke kelas.
Suara ramai
terdengar, seiring jarakku dengan kelas sudah dekat. Hal ini hanya berarti 1,
Guru geografiku, Bu Adah, tidak masuk. Aku tersenyum lebar, semangat. Hari ini
akan jadi hari yang menyenangkan.
Masuk kelas, seperti
yang sudah diduga, bu Adah tidak hadir. Entah izin atau apalah yang dia lakukan,
namun yang jelas pagi yang indah dengan mendung di langit ini akan menjadi pagi
yang menyenangkan.
“WOI RA! CEPET LOGIN”
teriak seseorang ketika aku baru membuka pintu. Di pojok kanan belakang, baris
pertama, telah tersusun 7 kursi yang mengelilingi satu meja. Yup, itulah teman
temanku. Aku tersenyum. “Sabar, naro tas dulu”.
Aku meletakkan tas di
baris kedua dari depan, lantas beranjak ke barisan belakang. “Lama banget sih
ra, telat lu kali ini kebangetan.” Ucap Mata, satu-satunya perempuan yang
bergabung di barisan belakang.
Aku mengusap rambut.
“Hadeh biasalah, bu Siti. Lagi PMS kayanya. Celana gua aja dipermasalahin.”
Aku menghempaskan
punggung ke kursi. Mengambil Handphone dari kantong celana, lantas Eh! Aku lupa
membalas pesan tadi pagi. “iya, aku
sekolah dulu ya. Udah sampe ni, nanti jam 6 kan pulangnya?” tulisku pada
kolom pesan di handphone. “Gece Ra, udah 20 menit kita nungguin lu.” Omel Ajar,
salah satu temanku juga. Aku menyeringai, langsung membuka aplikasi game
favorit yang selalu kita mainkan.
Satu setengah jam kedepan, barisan
belakang tenggelam dalam permainan game itu. 30 menit sebelum istirahat, aku
meletakkan handphone ke meja. Game ronde ke 5. Aku meng-puh pelan.
Bosan, ngantuk, lapar, juga suntuk. “Udahan dulu gua, asem. Jar, toilet ga?”
tanyaku. Ajar yang juga sedang menaruh handphone nya didepan kipas karena overheat
menengok. Ia tersenyum. “Yok, Ra” jawabnya. Aku pun bangun dari kursi,
mengambil botol parfum kecil dari tas, lantas beranjak pergi bersama Ajar.
Suasana luar kelas
ramai, penuh dengan orang. Ternyata, banyak juga kelas yang sedang “jamkos”.
Aku bersama Ajar belok kiri, ke arah toilet dibawah tangga. Itu bukan toilet
sembarangan, itu toilet lama, terbengkalai. Sudah 2 tahun covid melanda, tidak
ada aktivitas disekolah, maka selama 2 tahun pula toilet ini tidak tersentuh
juga dibersihkan.
Lantas mengapa aku
malah menuju toilet itu? Bukankah jorok, menjijikkan? Ah kalian salah. Malah
malah ini adalah tempat favoritku.
Aku dan Ajar masuk ketoilet
itu, membuka salah satu pintunya, lantas masuk kedalam.
“Bawa korek, Ra?”
tanya Ajar. Aku mengangguk. Kami menyalakan rokok masing-masing.
Itulah alasan mengapa
toilet itu menjadi tempat favoritku. Karena jorok dan tidak terurus,
orang-orang tidak ada yang tertarik untuk ke toilet itu, sehingga itu menjadi
tempat yang sangat pas untuk aku dan anak anak lainnya merokok.
“Lu tadi kena surat,
Ra?” tanya Ajar membuka obrolan. Aku menghisap rokok samil ketengan yang
dibeli tadi, lantas meniupnya keatas. Ruangan toilet itu dipenuhi asap beberapa
saat. “Kagak, Cuma diomelin doang. Biasalah” Jawabku. Ajar mengangguk angguk. “Lu
aman Jar sama Puput? Gua ga ngeliat lu ke kelas dia dari pagi. Ribut lagi?”
Tanyaku balik.
Ajar memiliki pacar
anak kelas sebelah bernama Pupus. Mereka sudah menjalin asmara sejak tertanda
kelas 10 SMA. Hubungan mereka sungguh awet, langgeng. Namun, tidak jarang juga
mereka bertengkar.
Mudah saja mengetahui
apakah Ajar dan Pupus bertengkar. Cukup lihat, apakah hari itu Ajar mengunjungi
Pupus ke kelasnya atau tidak? Jika tidak, maka seratus persen mereka sedang
bertengkar.
“Iya. Marah dia
kemaren kita nongkrong sampe jam 1. Kaga danta emang tu” Gerutu Ajar. Aku
tertawa kecil. “Makannya, cewe lu dikabarin Jar. Jangan dianggurin. Dicolong
wewe aja.”
Ajar tersenyum,
kembali menghisap rokoknya. “Eh, Ra” Ajar menyenggol lenganku. Aku menoleh. “Lu
tau anak Ipa 4? Yang namanya Bunga?” Aku menggeleng. “yang ono sih,
temennya Galang. Gakenal?”
Aku menggeleng lagi.
Di sekolah ini, aku bukan anak yang populer. Tidak kenal siapa-siapa. Bahkan satu
kelas saja, belum semua aku kenal, apalagi kelas lain? duh. “Ansos lu, dasar”
ledek Ajar sambil tertawa. “Lu juga ansos, koplak” balasku. Kami tertawa
bersama.
10 menit kedepan,
rokok kami sudah habis. Aku berdiri. “Lah, ga sebat lagi?” tanya Ajar. Aku
menggeleng. “Kaga ah, sisa 1 buat abis makan siang.” Ajar mengangguk. Aku
menyemprotkan parfume ke beberapa titik di baju, juga ke rambutku, lantas
menyodorkan nya ke Ajar. Ia menggeleng, tidak mau parfume nya, bilang kalau ia
beraroma rokok akan lebih memikat perempuan. Aku melambaikan tangan, malas menghiraukan.
Sisa hari aku habiskan dengan tidur di
Musholla bersama beberapa temanku, dan juga Ajar. 3 Jam aku tertidur, membolos
satu mata pelajaran, lantas kembali ke kelas pukul 2 siang. Perutku
keroncongan. Lapar. Aku, bersama 3 teman ku, memutuskan untuk pergi ke kantin.
Mengisi perut kosong.
“Bu, bakso pedes banget 1 sama teh
sisri” pesanku. “Lah tumben bakso lu tong, biase juga emi noh ama krupuk” jawab
ibunya. Aku menyeringai. “hehe, pengen yang kuah kuah.” Ibu kantin mengangguk,
lantas menyiapkan pesananku. Mataku menyisir kantin, mencari bangku kosong,
Ketemu! Bangku itu berada di pinggir belakang kantin. Aku berjalan kesana,
duduk, lantas menunggu makanan datang.
Udara siang ini menjadi panas.
Entah kenapa tidak jadi hujan, padahal pagi tadi mendung sangat gelap.
Ajar duduk dibangku depanku,
disusul 2 temanku yang lain, Maleo dan Rafi.
“Enak ngebakso siang siang” Ujar Maleo. “Siang siang mah enakny
tidur di musholla bukan makan. Panas cui dikantin” gerutu Ajar.
“Alah, kaya perawan siang bolong
lu, panas dikit rewel.” Ledek maleo. Mereka tertawa bersama.
Aku asyik menatap suasana kantin,
sambil memperhatikan lalu lalang orang-orang. Ternyata, banyak wajah wajah baru
yang jarang aku kenali sebelumnya. Aku merasa seperti orang asing disini,
padahal sudah hampir satu tahun aku bersekolah secara tatap muka.
5 menit menunggu, akhirnya bakso ku
datang, juga pesanan ketiga temanku lainnya. Kami tersenyum senang. Akhirnya
perut kami terisi setelah berjam jam tidak makan.
“Bang Japli kemaren suru anak
angkatan kumpul di encang, buset dah ditampol-tampolin cui bocah.” Rafi
membuka obrolan, sambil menyantap nasi ayam geprek miliknya. Aku menoleh,
tertarik dengan obrolan. “ditampolin gimana?” tanyaku.
“Au dah gua Cuma diceritain
sekilas. Yang dateng pada ditampolin, tapi kaga ditendang.”
Ajar menoleh, ikut berbicara.
“Bener cok! tuh si adam, matanya pada biru. intinya kalo si bang Japli suru
kumpul, jgn pada mao. Cuma ditatarin doang.” Aku menyendok bakso lagi, sambil
ber-hah pelan. Bakso ini cukup pedas namun nikmat. “Asli cui, apan coba
manfaatnya, padahal kan bocah udah lengkap di ncang, masi be ditatarin. bocah
kebelet senior” omel Maleo. Aku menepuk pundaknya. Aduh, Maleo ini kalau
berbicara tidak pernah tahu tempat. Bagaimana jika teman-teman bang Japli ada
disini? Bisa gawat akibatnya.
Oh ya, sekedar informasi saja, Bang
Japli adalah kakak kelasku. Dia dikenal sebagai Mafia. Suka tawuran, tidak
segan segan memukuli siapa saja yang berani melawan.
Maleo menatapku. “Lu takut Ra sama
dia?” ucapnya.
“Bukan takut le, tapi males aja
cari masalah. Lu demen ya berurusan sama orang rese?” jawabku singkat sambil
menyiduk bakso lagi.
“Aduh Ra, sama orang begitu kok lu
takut. Bang Japli itu ya, gaya nya aja gede soalnya emg lagi sama anak2nya.
Coba sendirian, yaelah liat ujung kaki gua aja juga uda ketakutan.” Lanjut
Maleo. Aku melambaikan tangan, tidak menanggapi. Maleo ini, kalau ditanggapi, duh
bisa kemana mana omongannya. Melantur.
Bakso di mangkukku sudah mau habis,
pun juga makanan di piring ketiga temanku.
“Sebat yok, Ra.” Ajak Ajar. Aku
mengangguk. Sudah pasti, setiap habis makan siang kami selalu merokok di tempat
favorit. Ya, di toilet terbengkalai itu.
Banyak anak sekolah kami menyebut
toilet lama itu sebagai Potu--Pojok Hantu. Bukan tanpa sebab Pojok Hantu
dinamakan karena satu, toilet itu memang secara harfiah berada di pojok tangga
dan dua, toilet itu sepi, berdebu, dan seperti berhantu.
Aku berjalan menuju kesana bersama
Ajar. Kami melwati beberapa kelas, termasuk kelas 12 Ipa.
Dan tepat ketika kami melewati
kelas 12 IPA 1, seorang perempuan keluar dari pintu kelas itu. Aku melihatnya,
pun juga Ajar. Perempuan itu tertawa, sembari membuang sampah didepan kelas.
Ajar menyenggol lenganku. “Itu loh, si Bunga” bisiknya. Aku mengernyitkan dahi.
Bunga siapa?
Kami melanjutkan jalan menuju
toilet itu.
Sesampainya di toilet, aku membuka
pintu besar lantas membuka salah satu pintu kecilnya. Saat membuka pintu toiler,
eh, ternyata didalam sudah ada orang. 3 orang tepatnya. Entah siapa orang itu,
aku tidak tahu, tidak kenal.
Aku menatap ketiga orang itu tajam,
sambil menaruh tangan di saku celana. Cepat keluar!—kurang lebih itu arti
tatapanku. Ketiga orang itu diam, tidak bergeming. Aku mengeluarkan suara ck
pelan.
“Numpang bang” ucap salah seorang
disana. Memulai obrolan
“Bocah berapa? Utas?” tanyaku langsung. Orang
itu mengangguk.
“Utas disamping. Ini khusus buat
gua sama temen gua. Udah tau kan, harusnya?” ucapku datar. Sok galak, cool.
Ah, lupa aku beritahu. Di Pojok
Hantu ini, aku dan Ajar yang menemukannya pertama kali. Ya, tempat ini dahulu
tidak tersentuh sama sekali. Anak anak lain, mereka merokok di pojok kantin. Malas
merokok di Pojok hantu, takut. Aku dan Ajar tidak suka merokok dikantin. Ramai,
berisik. Kami lebih suka merokok ditempat sepi. Maka bertemulah kami dengan toilet
ini dan disinilah tempat kami merokok.
Pertama kali kami menemukannya,
toilet ini berbau debu, bau barang-barang lama. Tidak berbau pesing maupun
busuk. Maka aku dan Ajar membuka jendela toilet ini, sedikit menyapu debu,
lantas memakai nya menjadi tempat “nongkrong” kami.
1 tahun semenjak kami menemukan
toilet ini, tempat ini berkembang. Banyak orang menggunakannya untuk merokok. Mulai
dari adik kelas hingga teman sebaya.
Aku awalnya tidak masalah, toh
mereka tidak menganggu. Namun, Ada satu syarat yang harus dipenuhi sebelum
mereka merokok disini. Jangan memakai toilet nomor 1, karena itu adalah tempat
khusus aku dengan Ajar. Aku tidak suka keramaian, tidak suka kebisingan, maka karena
itu, tidak boleh ada yang menganggu terlebih ketika aku sedang merokok.
Namun astaga, hari ini, ketenangan
ku terusik. Ada anak kelas satu SMA, yang secara sadar menyelonong masuk,
memakai toilet nomor 1. Tanpa permisi, tanpa ijin.
“Sebelah ada orang bang.” Jawab
anak kelas satu itu. Ia masih menghisap rokoknya. Aku menghembuskan nafas. “Mau
disebelah ada Nabi sekalipun, kalo peraturannya nomor 1 gaboleh ada yang
nempatin, tetap gaboleh. Ke pojok kantin aja sana” ucapku lagi. Aduh adik kelas
ini, apa susah nya sih menurut saja? Toh ya bukan mereka yang menemukan tempat
ini pertama kali pun juga membersihkan nya.
Ketiga adik kelas itu saling tatap,
menimang. “Pergi apa ketemu gua lu di ncang! ” Bentak Ajar. Adik kelas itu
sekali lagi saling menatap, lantas beranjak pergi. Aku dan Ajar tersenyum puas.
Akhirnya, satu kesempatan tempat kami dirusak berhasil dicegah.
Aku membakar rokok samil itu,
pun juga dengan Ajar. “Itu tadi Bunga cok!” ucap Ajar membuka obrolan. Aku
menatapnya heran. “Bunga bunge bunga bunge, apasih kampret? naksir lu ama dia?”
Ajar menghembuskan asap rokok
keatas. “Bukan gitu, Ra. Itu loh, yang kemaren kita omongin. Si cewe skena katanya
mah. Kata orang-orang, dia suka ngerokok
sendirian di belakang IPA 7, sambil nulis nulis di bukunya.”
Aku melambaikan tangan. “Males
gibah ah gua Jar. Gabaik ngomongin orang”
Ajar menepuk kepalaku. “Udah kaya
Habib lu ya sekarang, doyan yang surgawi-surgawi. Biasa juga kalo ada kabar
kabar semangat lu.”
Aku tertawa kecil. “Tapi serius,
Ra. Dia sering disebut cewe gila. Suka tiba tiba foto-foto langit, padahal mah
lagi banyak kilat (petir). Terus Ra, rokoknya. “ Ajar mengisap rokoknya
lagi, menghembuskannya ke langit-langit. “Rokoknya ziga, cok! Gila emang tu
cewe. Aduh, geulis geulis roko na kuli euy!”
Aku tertawa kecil. “Ya terus kenapa
jar kalo rokonya Ziga? Toh itu enak kok. Emang selera dia kali.”
Ajar mengusap rambutnya. “Iya si
Ra. Eh tapi, bukan itu Ra yang mau gua kasi tau” Ia menghisap rokoknya lagi. “
Tapi, tentang konektivitas dia sama lu, Ra. Konektivitas antara dua insan, Ra.”
Aku reflek menjitak kepala Ajar.
“Konyol lu koneksi koneksi, makan
aja masih pake kangkung sama tempe omongan lu konektivitas konektivitas.
Begajulan lu ya” Ajar tertawa sambil mengusap kepala nya.
Aku menatap pojok dinding kamar
mandi itu, sedikit berfikir.
“Kenapa orang orang julid ya jar.
Tu cewe Cuma ngerokok loh, enjoy her moment. Kenapa orang-orang ngusik
dia? Padahal dia Cuma mau tenang, gamau berisik.” Aku membuka topik obrolan
baru. Sambil menghisap rokok yang sudah sisa setengah batang.
Ajang menoleh, menatapku. “Itulah,
Ra. Dia itu punya koneksi sama lu.”
Aku menyenggol lengan Ajar.
“Gajelas lu, Jar. Kek orang nyabu” Ajar tertawa. “Eh, tapi betulan loh Ra. Dia
itu banyak dibilang anak anak cocok sama lu.” Aku menatap langit langit toilet,
sambil menghembuskan asap. “Terus?”
“Coba liat aja, Ra. Dia suka
foto-foto mendung, terus juga dia suka sendirian. Gasuka berisik. Sama bukunya,
Zabin ips 4 pernah liat, dia nulis Puisi, Ra! Sama kaya lu kan doyan
nulis-nulis. Apatuh kemarin? Senja di padang ilalang, bedeh kelas
Ra”
Aku menoleh ke Ajar. Jelas Ajar
sedang meledek salah satu hobiku, menulis. “Gapapa jar gua nulis senja di
padang ilalang” balasku. “Yang penting eligible nomor 3 “
Ajar menghembuskan asap rokoknya ke
muka ku.
“ Gaasik lu Ra bawa-bawa nilai.”
Gerutunya. Aku tertawa.
Ajar memang bukan termasuk pelajar
yang pintar. Ia tidak masuk eligible, pun juga tidak pernah juara kelas. Namun
Ajar, selalu senang belajar. Ia selalu bertanya tentang pelajaran kepadaku,
entah matematika maupun akuntansi. Dan dengan senang hati akan kubantu. Namun
Ajar memang agak malas, dia kadang suka lupa me-review ulang karena
asyik main warnet. Alhasil, semua yang kuajarkan buyar ketika ujian.
TING! Notifikasi handphone ku berbunyi.
Aku meraih Hpp-ku dari saku celana. YOVE : “ Iyaa, jam 5 ya kak. Aku mau
berangkat dulu. Byee kak!” Aku tersenyum.
Ah iya, lagi-lagi aku lupa
menceritakan tentang perempuan ini. Namanya Yoveva Nauralia. Perempuan cantik
berdarah jawa campuran chinese. Dia adalah adik kelasku, dulu SMP. Kami
memadu asamara tertera semenjak kelas 9 SMP.
Katanya, dia menaksirku duluan
ketika kegiatan MPLS dulu. Lantas mencoba untuk menghubungiku dengan segala
cara.
Aku terkesima dengan wajahnya yang
manis dan cantik. Dia seperti rembulan di tengah malam. Sempurna terang. Dan
rambutnya, harum bagai parfume manis. Juga matanya, ah itu adalah bagian
favoritku. Mata Yove berwarna coklat, dengan alisnya yang tebal. Aku bisa
menatap mata itu semalaman suntuk, sungguh.
Aku bukan laki laki romantis,
apalagi laki laki sempurna. Tapi Yove adalah wanita yang sempurna, seperti
bidadari sungguhan. Ia menerimaku apa adanya, dan aku mendapatkannya berlebihan.
Yove dengan segala kesempurnaannya, membuatku semakin jatuh cinta setiap hari.
“Okee, semangat sekolahnya, sayang.
Aku main dulu yaa” ketikku
di kolom pesan itu.
YOVE : “Lah, kokk main? Belajarrr
lah kak”
AKU : “ Iyaa, nanti belajar nya
hehe”
YOVE : “ Jangan bilang kaka
ngerokok!”
AKU : “ ….”
YOVE : “ Kebiasaan kalo skakmat
balesnya pake titik titik! Dasar! Jangan banyak banyak ka ngeroko nya. Hari ini
beli berapa batang?”
AKU : “ Cuma 2 sayang. Ga lebih”
YOVE : “ awas boong ya! Kalo boong
semoga ban nya bocor nanti pas pulang!”
Aku tertawa. Yove, benar benar mirip
seperti bu Siti. Mendoakan ban ku kempes. Tapi untunglah, hari ini aku memang
benar benar hanya membeli 2 batang. Tidak lebih.
“Iyaaa, cerewet.” Ketikku. Aku memasukkan handphone
ke saku celana. Lanjut menghabiskan sisa batang rokok yang terbakar.
“Lu kok gapernah berantem sih, Ra?
seminggu ini udah 3 kali gua ribut, Ra. Duh, pusing” keluh Ajar. Aku
menghembuskan asap rokok ke samping. “Mungkin karena gua jauh, Jar. Jarang
ketemu. Eh, ga juga sih. Yaa, setiap hari juga sih gua ketemu, tapi ga 24 jam
juga. Kalo lau kan berangkat bareng, pulang bareng, makan bareng, kurang berak
aja lu berdua ga bareng.” PUK! Ajar
menimpukku. “Aduh, Jar. Buset dah maen timpuk timpuk aja“ Ajar menghisap
rokoknya lagi. “Gua serius, Ra. Stress ini gua. Lu bayangin seminggu 3 kali gua
berantem. 3 kali juga gua harus mikir gimana bujuk dia biar ga marah. Duh elah”
Aku memperbaiki posisi jongkok. Kali ini sepertinya benar bahwa Ajar stress.
Terlihat dari ekspresi muka nya yang lelah. “Gini, Jar. Gua juga sering kok
berantem sama Yove. Tapi dari awal pacaran, gua udah bilang sama dia kalo gua
gapaham kode kode cewe. Jadi kalo emang Yove beneran marah, gua selalu suruh
dia ungkapin apapun yang dia pengen omongin. Even kemaren, nyokap gua
katanya nyenggol dia pas kita lagi makan bareng, nyokap ga sengaja tapi Yove
lagi PMS jadi dia ngerasa nyokap marah sama dia. Gua ga marah sama Yove, walau
nyokap yg dibawa bawa. Gua dengerin semuanya, keluh kesah dia, apapun itu. No
judge, just listen. Kalo Yove udah tenang, baru gua kasih 1-2 tips. kasih pengertian. Abis
itu udah deh, selesai.” Jelasku. Ajar mendengarkan, namun matanya menatap
langit langit. Ia sudah membakar rokok kedua nya. “Tapi Pupus gaperna mau kasi
penjelasan, Ra” Ucap Ajar, seraya menghembuskan asap rokoknya. Aku menepuk
pundaknya. “Itu Cuma berarti dua hal, Jar. Satu, dia kangen dan dua, dia pengen
manja-manja.” Aku menghisap batangan rokok terakhir, menghembuskan asapnya ke
arah bawah, lantas menaruh puntungnya di lubang WC. “Tapi apapun itu, percaya
sama gua, selama pupus ga main cowo, berarti dia Cuma kangen. Yok balik, gua
traktir es milo. masalah wadon doang jangan bikin hari lu jadi jelek ” Ajar tersenyum.
Lantas bangkit berdiri. Kami
berjalan bersama sama menuju kantin.
“Milo es dua, ekstra SKM” ucapku.
Aku mengambil dompet, membayar, lantas bersama Ajar kembali ke kelas.
Kami lagi lagi melewati beberapa
kelas, terutama kelas IPA 7. “Nih, Ra gua tunjukkin ada cewe gila disini.” Ucap
Ajar. “Ah, ngapain si jar, alay lu” aku melambaikan tangan. Ajar menarik paksa
bajuku, mengajakku ke belakang kelas IPA 7.
Sesampai nya disana, benar saja,
ada seorang perempuan, persis seperti yang aku lihat tadi ketika ia keluar
kelas untuk membuang sampah, sedang duduk di batu besar. Tangan kanan nya
sedang menulis di buku yang ia pangku. Lantas tangan kirinya memegang sebatang
rokok. Ia fokus menulis. Rambutnya berwarna hitam, tergerai, tidak terlalu
panjang. Ia mengalungkan sebuah jaket abu pada pinggangnya.
Dan matanya. Di sekitar pelipis
matanya, ada sebuah manik-manik kecil. Entah apa itu, tidak terlalu jelas
bentuknya.
“Kan, Ra. Kaya gila, kan? Sendirian
nyebat gitu.” Ajar menunjuk-nunjuk.
Aku menatap perempuan yang sedang
duduk di batu besar itu.
Benar, dia aneh. Sendirian, menulis,
dan hei! Kenapa dia tidak takut merokok disana? Bukankah ini masih kawasan yang
mudah terlihat cctv maupun guru?
Dan, kenapa harus disana? Harfiah
diatas sebuah batu? Dia menulis apa, apakah syair? Atau puisi? Atau apa? Cewe
itu tidak betulan gila, kan?
“Hemm..cengo cengo.. naksir kan lu
sekarang?” Ajar meledek, membuyarkan lamunanku.
Aku mendorong tubuh Ajar. “Apaansi
bloon” Ajar terkekeh.
“Keren tapi Jar tu orang.” Aku
berbalik badan, balik menuju kelas. Sudah cukup melihat pemandangan ‘asyik’
menurut Ajar. Tidak baik menatap orang berlama lama.
“Keren kenapa nyet? ” Ajar menyusul
berbalik badan, menuju kelas.
“Gua yakin seratus satu persen,
pasti banyak orang yang sinis-in dia, ngomongin, bahkan ngebully dia.
Banyak yang gasuka, terus juga berusaha buat jatuhin dia. Tapi apa? Nihil. Itu
cewe cuek mati, gapeduli kanan kiri nya. Ngelakuin apa yang dia suka.”
Aku merapikan rambut. Berdeham
pelan.
“kadang asik ya jadi kaya gitu.
Ngelakuin apapun yang bikin lu suka, tanpa harus repot repot mikirin orang lain
juga. Bising Jar dunia gua, dikelilingin orang banyak. Jadi harus mikirin
mereka juga kalo mau ngelakuin sesuatu.”
Ajar berdeham, menghembuskan
nafasnya. “Bersyukur, Ra. Semua pasti ada ga enaknya. Lu pengen jadi kaya dia,
ini itu. Tapi siapa tau cewe itu juga pengen ada di posisi lu?”
“Gada yang pantes di pengenin dari
hidup gua, Jar.”
“Ada. Misalnya punya temen
seganteng gua. Banyak Ra yang pengen” Ajar menyeringai.
Aku melambaikan tangan. Malas
menanggapi. Memutuskan untuk cepat cepat balik ke kelas.
“Buseet! Keren amat lu, Ra. Baru
balik pas udah mau pulang” Mata yang sedang bermain game, memiringkah hp nya,
berteriak meledek.
Aku menggaruk kepala yang tidak
gatal, melihat jam di tanganku. Pukul 2 lebih 50. 10 menit lagi aku akan pulang
ke rumah. Senyum tipis terlukis.
Aku menarik kursi di sebelah Mata,
melirik handphone nya. “kok lu main karakter cewe telanjang gitu sih, Ta? Porno
banget”
Mata melambaikan tangannya. “Diem
Ra. Kalo gua kalah, lu gua abisin”
“Gua bukan keripik Ta. Mau diabisin
gimana?”
“Ett batu lu ya, Ra. Beneran ini
kalo kalah, lu mati” Mata menggeram pelan, berusaha menekan tombol kursor di
Handphone nya.
“Lah, ngeri nya. Lu Tuhan ya Ta?
Kok bisa tau gua mati kapan. Boleh gua sembah ga? bikin agama baru penyembah
Mata?”
PLAK! Tangan mata memukul lenganku.
“Anjing lu, Ra”
Aku menyeringai. Berjalan menuju
kursi meja ku.
Sebenarnya tadi aku ingin merapikan
meja, bersiap siap untuk pulang. Tapi berhubung hari ini hampir seharian aku
tidak di kelas, pun juga tidak mengeluarkan barang apapun, maka tidak ada yang
perlu dirapikan.
Aku menggendong tas, mengambil
kunci motor didalamnya, lantas bersiap pulang.
“Langsung caw, Ra?” Ajar
menghampiriku.
Aku menoleh. “Pengennya gitu Jar.
Ngantuk sama laper. Kenapa emang?”
Ajar menyeringai. “Sebat dulu yuk.”
“Yah, abis rokok gua Jar. Gua kan
orang miskin, beli rokok aja gabisa.” Aku menggaruk kepala.
“Lu enak Jar, bisa beli rokok,
bapak lu PNS. Lah apaan gua, Cuma orang yang selalu beli rokok ketengan, bapak
gua aja bukan PNS. Mau pamer ya jar kalo lu punya rokok sebungkus? Iya Jar gua
pan gaakan pernah mampu bel—”
“PAKE PUNYA GUA! NIH ISEP” Teriak
Ajar.
Aku menyeringai. “Aduh, jadi gaenak
jar. Hehe”
“Bacot. Di belakang sekolah aja”
Ajar memalingkan badannya, keluar kelas. Aku berbalik mengikuti.
Bel pulang sekolah berbunyi, tepat
ketika aku berjalan melewati pintu kelas.
Anak anak semua berhamburan dari
kelas, berlomba lomba menuju tempat parkir supaya bisa sampai rumah duluan.
“Dikata lagi bagi sembako kali.”
Ajar mengomel. Pundaknya baru saja tertabrak anak kelas 10 yang berlarian
menuju parkiran.
Ajar mencengkram lengan baju
seorang anak kelas 10 yang lagi lagi hendak menabraknya.
“Motor lu kaga bakal jalan dewek kocak, gausa
lari larian apa.” Anak kelas 10 itu menatap ngeri, mengangguk angguk diceramahi
Ajar.
Aku tertawa dibelakang. “Kakak
senior lagi keras keras nya, nieh”
Ajar melambaikan tangan, memutuskan
untuk lanjut berjalan menuju belakang sekolah.
Kami akhirnya tiba di belakang
sekolah, halaman hijau seluas ruang kelas dengan batu besar menancap di bagian
tengahnya.
Ketika anak anak sekolah sudah
pulang semua, guru guru ataupun staff sekolah biasanya juga beristirahat.
Tidak ada yang memantau cctv, juga
tidak ada yang berkeliling. Aman terkendali. Waktu yang pas untuk aku dan Ajar
merokok dbelakang sekolah.
Aku melompat keatas batu itu,
melemparkan tas ke sembarang arah. Juga Ajar, memutuskan untuk duduk dibawah,
bersender ke batu itu.
Ajar membakar rokoknya, memberikan
sisa bungkus kepadaku.
“malem gua diajak ke babeh, Ra”
Ajar menghembuskan asap rokok nya keatas.
Aku menyalakan korek, lantas mulai
membakar rokok camel ungu itu.
“ngapain?” tanyaku.
“di suru bang rafli”
Aku menepuk dahi. “Dan lu mau, Jar?”
“kalo kaga, mau dibilang apa gua
disitu Ra. Mau ditaro dimana muka gua? ”
Aku menghembuskan asap rokok yang
baru saja kuhisap.
Ah, rasa mint. Rasa rokok favoritku.
“Lu tau kan, kalo ada yang manggil
manggil ke tongkrongan daerah nya bang rafli, lu mau diapain?” tanyaku pada
Ajar.
“Iya, Ra. Tau. Tapi gimana?”
“Ya ga gimana gimana Jar. Lu baru
sekali kesana, kan? Mumpung belum pada kenal sama lu, belum pada hapal sama lu,
udah. Berenti. Tolak ajakan nya. Itu tongkrongan toxic Jar”
Ajar menggaruk kepala nya,
menghisap rokok nya kembali.
Dalam SMA kami, terdapat beberapa
tongkrongan yang tersebar di beberapa wilayah. Tongkrongan itu biasanya
berbentuk warung kopi atau gazebo ‘gubuk’ di pinggir jalan.
Tidak ada yang salah memang dengan
hal itu. Bahkan hei, jika kalian bergabung dengan tongkrongan itu, kalian akan
menemukan banyak teman baru pun juga keluarga baru.
Namun hal yang membuat tongkrongan
menjadi salah adalah ketoxic-an nya.
Tidak jarang sebuah sekolah bersitenggang
dengan sekolah lain dan itu merupakan hal yang biasa terjadi.
Average problem terutama di tangerang, kedua
sekolah yang saling bersitegang tersebut lantas tawuran, bertengkar. Dan
disinilah peran tongkrongan tongkrongan tersebut.
Biasanya yang bertengkar, tawuran,
adalah para anak anak tongkrongan sekolah tersebut.
Mereka menjadi garda terdepan,
membela nama baik sekolah masing masing.
Dan apa yang terjadi jika kita
bergabung kedalam tongkrongan tersebut? Apakah kita otomatis akan ikut tawuran?
Seharusnya tidak. Ikut atau tidak,
adalah pilihan masing-masing.
Jika takut maka tidak usah ikut dan
jika ikut maka tidak usah takut—begitu
kira kira slogan anak anak tongkrongan disekitar kami yang selalu mereka
elu-elu kan.
Namun disinilah letak dimana aku
menyebut sebuah tongkrongan adalah toxic, beracun.
Ketika sebuah tongkrongan memaksa
seluruh anggota nya untuk ikut tawuran, bersama membela nama baik sekolah
masing masing.
Ketika sebuah tongkrongan sengaja
me ‘rekrut’ orang orang luar yang tidak tahu apa – apa, ber alibi bahwa mereka
ingin bersilahturahmi, padahal sejati nya mereka hanya ingin mengajak orang
luar tersebut untuk menjadi bala bantuan tawuran.
Aku tahu semua itu, aku tahu bahwa
bang Rafli, kakak kelas ku, dia lah orang yang hobi melakukan ‘rekrutmen
dadakan’ tersebut.
Aku tahu, karena kakak laki laki ku
sendiri, Mas ku, dia lah yang menceritakan seluruh peristiwa seluk beluk
sekolah ini.
“Jangan pernah percaya sama
tongkrongan yang dipegang bang Rafli, Jar. Abang gua pesenin gua begitu. Dia
jadi pecandu juga karena join kesana. Gua bukan mau judge a book by its
cover, Jar. Cuman ya gimana, bang Rafli mah emang udah terkenal trouble
maker”
Aku mengeluarkan botol minum dari
tas, menegak air nya. Sisa sedikit, artinya hari ini supply air putih
untuk badan ku hampir maksimal. Aku menegak air nya lagi, menghabiskan sisa
nya.
“Iya, Ra. Gua juga yakin dia mau partai
sama anak Yamima malem ini. Tadi temen gua yang disana ngabarin begitu. Pasti
gua diajak buat direkrut ikutan war.”
Aku menghisap rokok camel ungu itu.
Asap nya mengepul ke arah atas.
“Jangan pernah ikut tawuran, Jar.
Ga worth it. Gada yang mau nerima lu di kerjaan nanti kalo di badan lu
ada goresan br. Pikirin emak lu, kasian.”
“Iya, Ra. Cocok juga lu jadi
ustadz. Mualaf aja geh.”
PUK! Aku menimpuk kepala Ajar
dengan batu kerikil. “Koplak lu”
Ajar Tertawa.
Matahari masih terik, pukul
setengah empat sore. Sekolah sudah sepi. Sesekali Ajar melongok kan kepala nya
kebalik tembok, memeriksa apakah ada satpam atau petugas kebersihan sekolah
yang hendak menghampiri mereka.
Kami berdua menghabiskan beberapa
batang rokok, sambil mengobrol entah tentang tugas, guru, atau tentang yang
lainnya. Ngalur-ngidul.
“Lu jemput cewe lu jam berapa, Ra?”
Ajar bertanya.
Aku menoleh. “Jam 4 otw.”
Ajar mengangguk.
Aku melirik jam tangan, pukul
15.47. “Jar, Batbut yuk. Gua mau beliin emak gua es kelapa dulu.”
Ajar mengangguk lagi. “Gua juga
ngantuk, Ra. Ntar malem harus ke rumah cewe gua bujuk dia buat minta maap”
Aku tertawa, sambil menyalakan satu
batang rokok lagi.
Kami menghabiskan sisa waktu dengan
menikmati angin sepoi sepoi.
“Gila ni orang, coba Ra lu liat
nih, puntung Ziga, ada 10 anjrit! Sepur banget tu cewe. Lu itungin nih.” Ajar
berseru seru.
Aku megerutkan dahi, masih
memainkan handphone. “udah ah Jar, kaya gaperna liat rokok aja lu.”
“Kaga Ra, ini beneran si Bunga
sepur banget. Liat tuh ada 10 puntungnya”
Aku melambaikan tangan. Mengabaikan
Ajar yang masih ber seru seru melihat 10 puntung rokok Ziga bertebaran
disekitar kami.
“Jadi laki kok norak. Baru pertama
kali liat rokok apa gimana?” suara seorang perempuan memecah keheningan di
belakang sekolah itu. Aku dan Ajar reflek menoleh.
(to be continued - unfinished)


Komentar
Posting Komentar