ALDEBARAN 1 TERE LIYE - REVIEW by BONRG : BERKUMPULNYA LEGENDA DUNIA PARAREL!


Finally
, setelah penantian panjang yang selalu berakhir dengan 're-read' buku bumi series dari buku ke 1 hingga ke 15 nya, Tere Liye akhirnya melahirkan anak ke-16 nya dalam semesta series dunia paralel, memuaskan dahaga para pecinta 3 remaja protagonis atau karakter karakter badass antagonis lainnya.

Aldebaran bagian 1, sebuah jembatan yang akan menghubungkan kita dengan pusat permasalahan utama fase 1 dalam series ini, yakni klan legenda yang digadang gadang sebagai pusat seluruh teknologi mutakhir dan kekuatan lahir, klan Aldebaran. Tempat si kembar ceros berasal, juga nenek Cwaz lahir, dan karakter karakter keren lainnya.

Buku ini, menurut saya, seperti layaknya sebuah handphone yang terkena 'factory reset', kita serasa disedot lubang hitam yang tak kenal waktu ke masa lampau, ketika buku pertama berjudul BUMI lahir. Perkenalan karakter baru seperti April, suasana sekolah mereka, atau kehidupan kehidupan monoton antara Seli dan Raib. Ah jangan lupakan pertemuan dua sahabat yang dikekang perasaan tak terlihat, Raib dan Ali yang yakin, bikin siapapun ketika sampai di bagian itu, akan melting membaca nya.

Secara keseluruhan, saya memberi rating buku ini sebanyak 6 bintang dari 10. Tidak ada yang sempurna kecuali Tuhan di dunia ini, benar, namun setidaknya buku ini layak diapresiasi dari segi fanservice nya yang sangat membuat 4 dunia pararel meledak kegirangan. Tidak perlu berbohong, jelas ketika para pemburu dari dunia komet minor didatangi Bibi Gill, membuat siapapun bergidik merinding. Atau ketika Ali yang berpisah dengan ibunya, pertemuannya dengan Raib, ah siapapun pasti berteriak kencang dalam hati atau menangis tersedu sedu.

Namun layaknya Yin dan Yang, buku ini juga memiliki 4 point kekurangan yang membuat point keunggulannya berkurang hingga angka 6. Apa saja kah itu? baik, mari kita bedah. Namun dengan catatan yang tak lelah lelahnya saya ingatkan, ini berdasarkan personal opinion saya sebagai salah satu penganggum karya Tere Liye. Jadi dimohon maaf jika pendapat ini tidak sesuai dengan yang semesti nya puan dan tuan ekspektasikan.

Nah, maka dari itu, mari kita mulai dengan kekurangan nya.

Sejujurnya, ketika membaca di awal, mulut saya sedikit menguap. Ah, bukan karena kurang minum air putih kok, tapi memang karena cerita di buku ini yang berjalan terlalu lambat. penggambaran karakter Raib dan Seli pasca konflik civil war di klan Matahari Minor digambarkan terlalu rinci hingga terkesan bergerak sangat lama. Mungkin juga efek pertarungan besar di buku sebelumnya yang membuat kita naik hingga ke puncak semesta, lantas dibuku ini, kita dibanting ke samudera luas dan di bawa tidur dengan alunan debur ombak. Seperti misalnya penggambaran raib yang naik angkot berulang ulang, atau keadaan kelas berulang ulang. Memang sih, saya paham, bang Tere hendak menjelaskan bahwa konflik diantara mereka se serius itu, dengan latar tempat yang mengingatkan kita atas buku buku lama. Namun entah, menurut saya terlalu detail penggambaran nya hingga hingga membuat orang orang bosan membaca dialog halus yang terjadi disana. Kalau kita lihat, di buku si Putih ketika petualangan pak Tua dan N-ou, itu juga se vibes dengan buku ini, yang dimana digambarkan selalu dan selalu makan siang, beberapaa kejadian terjadi dengan akhirnya kembali ke suasana lama, makan siang. Namun anehnya, disana feel nya lebih kena, tidak bosan. Mungkin, menurut saya, juga karena porsi slice of life karakter dengan peperangan nya terkesan balance dan seimbang. Berbeda dengan Aldebaran yang bahkan nyaris tidak ada fight scene seperti yang kita harapkan.

Lalu yang kedua, penggambaran megah suasanan ketika Bibi Gill mengunjungi petarung petarung lama mematikan dari seluruh dunia Pararel. Entah bagaimana, rasa nya disini terlalu 'memaksa' dan kesan megah nya kurang kena di hati saya. Hanya beberapa karakter yang berkesan bagi saya, seperti Arci dan kawan kawan. Sisa nya hanya berkesan 'wah, bibi gill mengunjungi mereka' lantas selesai. Menurut saya, di bagian ini, Bang Tere membuat entrance dari Bibi Gill yang mengunjungi mereka secara cepat sekali dan sekelibat, tidak ada entrance kemegahan dan kengerian, mengingat aura es Bibi Gill yang cukup membuat nafas siapapun sesak. Juga tidak ada usaha bounding antar karakter ketika pertama kali bertemu yang berkesan. Padahal para pembaca buku Bumi jarang melihat interaksi antara Bibi Gill dan karakter karakter dari buku lama seperti Arci dan Ceros, dan ketika di suguhkan pertemuan mereka yang terlalu cepat, hal itu serasa seperti pertemuan biasa antar bibi Gill dan orang random lainnya.

Itulah kekurangan dari buku ini yang membuat saya merasa seperti membaca ending megah yang 'kentang' dan terkesan sangat terburu buru. 

Tapi hey, dari semua kekurangan diatas, bukan Tere Liye namanya jika tak menyuguhkan kudapan bombastis!

Aada satu bagian yang sangat membuat saya bertepuk tangan dan bergidik merinding. Sebuah kejadian, yang di develope hingga 16 buku, dan benar benar berhasil membuat suasana menakutkan dan aura yang mengerikan.

Moment ketika Raib dipaksa menyembuhkan Seli.

Itu adalah hal yang mengerikan sekaligus mengesankan. Disini, bang Tere benar benar berhasil mendevelope Raib menjadi karakter pamungkas di buku Bumi ini.

Dari dulu, saya selalu kesal dengan bang Tere. "Katanya putri Bulan! mana kekuatannya? raib cuma bisa bengong aja, kekuatannya juga cuma BUUM BUUM! saljur berguguran. Tameng transparan. Bahkan seli saja lebih berkembang dari Raib."

Nyaris disetiap buku, saya tidak pernah kagum dengan Raib. Kagum hanya kepada karakter karakter lain seperti Cwaz, Kanselir, Seli, atau Finale. Dan hampir tiap buku, saya selalu mengutuk Raib atas betapa lemahnya remaja itu. Tidak pernah berkembang, hanya bisa mengeluarkan pukulan berdentum, hanya bisa membuat tameng transparan. Tapi, Wahai diatas segala wahai! (astaga, udah mulai kerasukan Faar nih) Ternyata itu semua adalah char development ala bang Tere. Yang makin lama makin hari, makin membuat aura Raib bersinar dan menakutkan. Perlahan lahan tapi pasti, bang Tere mengisi diri karakter Raib dengan kegetiran, kepahitan, juga pertemuan dan pelajaran dengan orang orang hebat, dan tak lupa, pengorbanan bersama teman teman nya.

Di sini, di buku ini, untuk pertama kali nya, saya merinding melihat betapa seram nya aura yang di keluarkan Raib walau itu hanya lewat tulisan novel. Moment ketika semua orang panik melihat Raib yang hampir sadar atas pengaruh April, momen Raib mengobati Seli dengan teknik penyembuhan Bibi Nay, juga Momen ketika betapa seram nya Raib ketika membentak April yang terus mempengaruhinya.

Masterpiece!

Salah satu dari sekian banyak character development bang Tere yang berhasil dan menjadi sebuah masterpiece (Rehan di buku REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU juga sangat badass) adalah Raib. Dan wahai, saya sangat tidak sabar, menunggu betapa kuat nya Raib di pertarungan Aldebaran nanti!

Overall, dari segi cerita, buku ini terkesan lambat dengan latar tempat yang sangat monoton. Konflik atau tempat baru yang di eksplore bukanlah 'hal baru' melainkan hal yang memang sudah ada. Juga penggambaran konflik Seli dan Raib yang sudah sangat apik, namun latar dukungan nya masih sangat lambat. 

Moment mewah ketika Bibi Gill bersilahturahmi dengan para legenda dunia Pararel juga menjadi scene yang agak 'kentang' karena kurangnya feel bonding disana atau induksi awal perkenalan. Disana, sangat terkesan bahwa seakan akan Bibi Gill sudah kenal dan akrab dengan karakter itu, padahal dari pov pembaca, jangankan pernah, disebut saja tidak. Ini membuat keseluruhan cerita dalam buku ini terasa seperti 'dikejar cicilan' dengan plot yang asal tempel demi fanservice yang di ekspektasikan menjadi mewah.

Tapi, buku ini tetap mendapat hasil manis nya, dari karakter Raib yang sangat well done dengan aura putri Aldebaran nya yang berdebar debar. Juga berhasil membuat pembaca menitikkan air mata dari karakter Ali yang berpisah dengan ibunya, juga bertemu dengan Raib.

Pembuka yang sangat manis untuk pertarungan besar nanti.

Ah ya, buku baru sudah keluar. Tentang Hana, ibu Mata. Jembatan penghubung lainnya sebelum pertarungan besar Aldebaran. Sedang menunggu gajian bulan Juni, lantas GAS! kita baca. Dan untuk reviewnya, tetap tunggu di akun ini yeah! 

Akhir kata, jangan pernah menelan bulat bulat sebuah kalimat yang keluar dari sudut pandang mata orang lain. Jadikan hal itu sebagai 'kudapan' atau 'karpet merah' dalam berkelana di dunia fantasi dan pengetahuan buku buku novel, dan tetap ikuti apa yang kamu lihat dari sisi mata mu!

See ya in another review book sesh, fellas!

Komentar

ALDEBARAN 1 TERE LIYE - REVIEW by BONRG : BERKUMPULNYA LEGENDA DUNIA PARAREL!